Corona

Epidemiolog: Mucormycosis Belum Bisa Disebut Sebagai Epidemi

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan bahwa meningkatnya kasus infeksi jamur hitam (Mucormycosis) di India, tidak mengindikasikan bahwa penyakit itu dapat disebut sebagai epidemi. Menurutnya, saat ini Mucormycosis masih masuk dalam kategori wabah. Namun karena kasusnya telah meningkat nyaris mencapai 10.000 di India, maka penyakit ini dikategorikan sebagai wabah nasional.

"Tapi ini wabah yang sudah harus menjadi catatan serius ya karena di India jadi wabah nasional, dengan kasus yang saat ini sudah mendekati 10 ribu kurang lebih kasusnya," kata Dicky. Ia kemudian menjelaskan bahwa Mucormycosis bukan merupakan penyakit yang muncul 'baru baru' ini. Karena penyakit yang disebabkan jamur Mucormycetes ini telah ada sekitar abad 17.

"Mucormycosis atau infeksi jamur hitam ini sebetulnya bukan penyakit baru, ya ini penyakit yang sudah lama, sejak abad 17 18 ini sudah ada," jelas Dicky. India saat ini tidak hanya menghadapi lonjakan kasus virus corona (Covid 19) saja, namun juga Mucormycosis. Mucormycosis biasanya dialami oleh mereka yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh dan kadar gula darah tinggi.

Lalu apa itu Mucormycosis atau biasa disebut infeksi jamur hitam? Mucormycosis adalah infeksi jamur yang menyebabkan hidung menghitam atau berubah warna, penglihatan kabur, nyeri dada, kesulitan bernafas hingga batuk darah. Penyakit ini disebabkan oleh paparan jamur Mucormycetes yang umumnya ditemukan di tanah, udara, bahkan di hidung dan lendir manusia.

Infeksi jamur ini menyebar melalui saluran pernafasan dan mengikis struktur wajah. Terkadang, dokter harus mengangkat mata yang terinfeksi melalui tindakan pembedahan untuk menghentikan infeksi ini agar tidak mencapai otak. Penyakit ini memiliki kaitan erat dengan diabetes dan kondisi yang terkait dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Para ahli mengatakan bahwa penggunaan obat secara berlebihan yang menekan sistem kekebalan tubuh selama pandemi virus corona (Covid 19) dapat menyebabkan lonjakan kasus infeksi tersebut. Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa Mucormycosis memiliki angka kematian sebesar 54 persen, tergantung pada kondisi pasien dan bagian tubuh mana yang terkena. Pada hari Sabtu lalu, Menteri Bahan Kimia dan Pupuk Federal India, Sadananda Gowda mengatakan bahwa hampir 9.000 kasus ini telah dilaporkan terjadi di India dalam beberapa pekan terakhir.

Sebagian besar ditemukan pada orang yang terinfeksi Covid 19 atau sedang dalam masa pemulihan dari penyakit tersebut. Padahal sebelum muncul pandemi Covid 19, negara itu mencatat kurang dari 20 kasus ini dalam setahun. Mucormycosis pun telah menyebabkan banyak rumah sakit di India kekurangan Amphotericin B, obat yang biasa digunakan untuk mengobati pasien dengan kondisi tersebut.

Gowda memang tidak menyebutkan jumlah kematian akibat kasus infeksi ini, namun media lokal menyebut ada lebih dari 250 orang meninggal karena Mucormycosis. Lalu apakah penyakit ini bisa menular? Mucormycosis tergolong sebagai penyakit yang tidak menular, artinya tidak dapat menyebar melalui kontak antara manusia maupun hewan.

Kendati demikian, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebar dari spora jamur yang ada di udara atau di lingkungan sekitar, yang hampir tidak mungkin dihindari oleh manusia. Seperti yang disampaikan Kepala Rumah Sakit Khusus Mata Narayana Nethralaya,K Bhujang Shetty. "Bakteri dan jamur sebenarnya sudah ada dalam tubuh kita, tetapi mereka terus diperiksa oleh sistem kekebalan tubuh. Ketika sistem kekebalan turun karena pengobatan kanker, diabetes atau penggunaan steroid, maka organisme ini berpeluang untuk berkembang biak,"kata Shetty.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *