Corona

Tim LaporCovid-19 Menduga Angka Kematian Pasien Covid-19 di Luar Faskes Jauh Lebih Tinggi

Co Inisiator Lapor Covid 19 Ahmad Arif menduga angka kematian pasien covid 19 yang sedang melakukan isolasi mandiri dan di luar fasilitas kesehatan lebih tinggi dari yang tercatat secara resmi. Dugaan tersebut berdasarkan sejumlah informasi dan verifikasi di lapangan yang ditemukan tim Lapor Covid 19. Berdasarkan temuan timnya, ada perbedaan antara data kematian yang dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah daerah dengan hasil verifikasi di lapangan.

Hal itu disampaikannya dalam Konferensi Pers Lapor Covid 19 bertajuk "Puncak Gunung Es Kematian Covid 19 di Luar Fasilitas Kesehatan" yang disiarkan di kanal Youtube Lapor Covid 19 pada Kamis (22/7/2021). "Jadi ini kami kemudian ingin menegaskan bahwa data yang kami kumpulkan ini adalah data yang fenomena puncak gunung es, jadi kematian orang yang meninggal di luar fasilitas kesehatan, kami menduga jauh lebih tinggi," kata Arif. Ia mencontohkan misalnya terkait proses pencatatan kematian di Kota Malang, Jawa Timur.

Menurutnya angka kematian yang dilaporkan per hari relatif kecil yakni rata rata 5 kadang bahkan ada yang satu hari tercatat 0 kematian. Timnya kemudian mencoba melakukan crosscheck dengan informan Lapor Covid 19 di rumah sakit Pada 19 Juli 2021, kata dia, disebutkan kematian di rumah sakit di Kota Malang 0.

Padahal data yang didapatkannya dari pemakaman di sana, ada 26 orang yang dimakamkan dengan protokol Covid pada tanggal tersebut. Dari 26 orang itu, lanjut dia, 9 orang di antaranya meninggal saat isolasi mandiri. Arif mencontohkan lagi data mengenai protokol kematian di satu daerah di Jawa Tengah.

Pada 18 Juli 2021 daerah tersebut dilaporkan ada sekitar 70 orang yang dimakamkan dengan protokol Covid. Mayoritas dari 70 orang tersebut, kata dia, sebenarnya sudah positif dengan antigen, bahkan dengan PCR. Namun yang mengejutkan, kata dia, sebenarnya dari 70 orang tersebut 26 di antaranya atau sekira 37% meninggal dalam posisi di rumah atau isolasi mandiri.

"Sayangnya memang data ini tidak dibuka oleh pemerintah daerah jadi hanya beredar di kalangan terbatas," kata Arif. Namun demikian, kata Arif, timnya belum bisa memastikan apakah fenomena serupa terjadi di setiap daerah atau tidak. "Tapi secara umum yang ingin kami informasikan sebenarnya, saya tidak tahu apakah setiap daerah seperti itu. Tetapi setidaknya beberapa daerah yang memberikan informasi ke kami itu sebenarnya memiliki laporan kematian yang cukup rinci, yang ini seharusnya menjadi data publik yang sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat seberapa sebenarnya skala dampak dari pandemi ini," kata Arif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *